Tenang no ati, tenang no pikir, tenang no laku

Pernah ingin menuliskan tentang ini, tentang di mana bertanya siapa saya? dari mana saya? punya apa saya? Tentang falsafah bagi seorang manusia.

Maka saya adalah manusia biasa yang akan menjadi luar biasa jika saya bukan manusia biasa. Tentang keluarga dan tentang asal darah daging ini ada merupkan titik balik semua menjadi jelas. Sejatinya ini perihal jati diri dalam hal apa yang ada di raga ini. Tentang perangkat pelangkap sandang,pangan, papan bahkan material duniawi lainya yang bisa diusahakan dengan tangan-tangan manusia menjadi semacam milik sendiri. Tentang tanya materi, tentang tanya darah keturuanan macam apa, hingga takaran drajat yang nampak mata juga dibicarakan, tentang apa yang dikenakan berupa benda-benda yang dipunya secara materi.

Materi tersebut adalah wahana bahan pelengkap hidup dunia, pastilah bisa semestinya diperolah dan takaran kebutuhan masing-masing sudah ada takaran dari Tuhan, porsi kecukupan bagi masing-masing manusia juga sudah dipertimbangkan Tuhan, namun porsi itu bisa berlebih jika merasa lebih baik berbuat lebih untuk hal ikhwal kesenjangan sosial. Kedudukan dalam drajat mata maksudnya apa yang dilihat adalah titipan di dunia bukan berarti tak perlu, tapi tak juga perlu terus diratapi jika merasa tak nampak dalam strata kasta si kaya. Karena ketidak kayaan itu muncul ketika kecukupan yang ada dirasa tak cukup mencukupi hal ikhwal kebutuhan berkecukupan. Toh cukup tidaknya manusia juga bisa menakar dalam hitungan bahkan pertimbangan pribadi perihal materi yang nampak.

Kembali dalam hal apa yang awal tertanam dalam diri adalah bukan dari keturunan manusia semacam apa hingga kemudian jadi cela seseorang untuk mencela dan menjerumuskan diri dalam keriyaan, bahkan apa yang disandang dalam raga bisa saja sirna ketika Tuhan menghendaki segera, dan apa yang dibawa raga berupa kebendaan juga akan sirna jika tiada tau menempatkan kebendaan itu semestinya benda yang juga fana. Tuhan yang Maha berkehendak atas segala. Tak usah jadi pelik ketika bertanya apa-apa yang menjadi perabot duniawi dalam raga.

Bentuk rupa raga adalah karunia apapun bentuknya itu, Tuhan Maha Lihai dan sangat ahli mempertimbangkan hingga bentuk rupa manusia sempurna sebagai bentuk hasil cipta Yang Maha Sempurna. Dan ciptaan ini tak kekal, akan beda rupa dari awal masih bentuk sperma hingga menjadi senja menua bahkan saat sirna raga.

Sebenarnya dalang dari sekumpulan tulisan ini adalah soal kewajaran akan kekhawatiran tak layak raga, tak kaya harta, tak elok dipandang mata, tak elok secara riya diceritakan keseama, tak pandai menjalani hidup sebagai manusia berpunya harta. Lebih lagi soal tak bisa perolah apresiasi dari manusia lainya sehingga tak bisa riya di hadapan mereka sesama manusia. Yang sejatinya akan saling melihat walau tak perlu memperlihatkan apa yang ada dan apa yang kita punya soal duniawi. Namun adakalanya kebaikan perlu dilihat bukan dari apa yang terlihat mata saja. Karena hati siapa tahu kehati-hatianya. bibit,bebet,bobot begitulah hal ikhwal ini.

Maka dalam benak saya muncul satu kata lagi menjadi bibit,bebet,bobot dan brot.
Kenapa kemudian si “brot” ini muncul dalam benak saya?
Bukan karena iseng tapi bukan juga asal mengutarakannya, kadang keyakinan menjadi prinsip akan sesuatu biasa lebih berguna dan lebih akan nampak jika tak peduli dengan apa yang perlu ditampilkan untuk sekedar menunjukan pada sesama.

‘brot’ ini perihal apa yang menjadi nilai tawar bahkan apa yang bisa dilakukan tanpa kita memperumit keadaan dengan bersikukuh mesti peroleh takaran ‘wow’ pada bibit,bebet,bobot seorang yang bisa diriyakan pada sesama. Lagi-lagi saya menjumpai sesama yang menancapkan tiang kuat untuk kibaran bendera kemewahan duniawi. Yang semakin menguatkan saya perihal ‘brot’ ini. Terkesan bernada ejekan bahkan bunyi kentut yang berlalu ‘brot’ ini. Yang demikian juga yang saya rasa biarlah berlalu ambisi seseorang akan tiga hal kaku yang membuat saya tak ambil peran mempermasalahkan seseorang dengan tiga hal tadi. Maka “brot” menguatkan saya akan sebenarnya tak usahlah menjadi kendur dan mundur hanya karena tak dikata layak secara bibit,bebet,bobot.

Seperti apa yang telah saya utarakan bahwa sejatinya kebendaan dan titipan Tuhan akan kembali pada Nya. Bahkan nyawa ini pun akan kembali pada yang Kuasa. Konsepsi pribadi saya perihal ‘brot’ ini adalah supaya saya juga peduli akan tiga hal tadi. Penting menyadari bahwa itu perlu. Maka dengan kiat apa bisa berbuat lebih dengan bibit,bebet,bobot yang kadang takaranya tak sepadan dengan kenyataanya. Kecil akan tetap kecil jika tak dibesarkan, besar akan jadi kecil jika kebesaran masih saja dirasa kecil. Banyak akan juga kurang jika tak disyukuri, dan sedikit juga tak akan jadi banyak jika sedikit demi sedikit tak diperbanyak, atau bahkan kebanyakan yang besar menjadi kecil ketika banyak hal kecil yang menjadikanya sedikit.

‘brot’ perihal nilai tawar terhadap diri pribadi, perihal juga bagaimana kita berburu harga diri yang tak perlu kita permasalahkan nilai jualnya, karena tak juga perlu memperjual-belikan harga diri hanya karena tak peroleh harga dari diri sendiri. Jadi hargai diri sendiri dengan tetap mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan mengupayakan apa yang Tuhan telah takdirkan.

Tenang no ati, tenang no pikir, tenang no laku, laku ing kodrat lan tetep percoyo kebajikan mesti ono wales kebajikan. Ojo gawe duko marang liyan, yen ono sing gawe duko mongko tetap laku mituhu marang Gusti. Tetep sinau ojo pamrih ning ojo ra nduwe, kudu nduwe pegangan urip. Kudu iso laku urip migunani tumprap liyan, iso dumeh ning tanpo pamrih, iso nduwe ning iso aweh, iso rekoso ning iso mulyo, iso tetep teguh ing keyakinan lan iman.

-kamar kos| sleman 28/3/14-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s