memimpikan pertanyaan-pertanyaan

Hari-hari dipekan awal bulan Maret 2014, saya masih berkutat dengan penulisan tugas akhir hasil penelitian untuk masa studi saya, buku bacaan yang dibaca tak jauh dari sumber literasi tentang dunia teknologi terutama komputer, ketika mencari di dunia maya pun literasi dan bahan ajar penunjang penulisan tersebut adalah sama tentang teknologi atau apapun yang berhubungan dengan apa yang saya kerjakan ini.

Tapi sebuah proses ini adalah perihal keyakinan akan segera kelar masa studi akademik strata satu saya. Muncul beragam tanya ketika disela-sela mengerjakan skripsi ada satu buku yang saya baca pokoknya tentang “Sukses” definisinya jelas bukan iming-iming akan kemudahan meraih kesuksesan tersebut. Dan memang ini perihal materi, posisi, bahkan sosial juga perihal keyakinan agama. Yang jelas lagi buku ini memberi pengetahuan tentang perlunya mencerna bacaan tak sekedar dibaca dan hanya dibaca atau sekedar tau kemudian lupa. Ya saya tak perlu bicarakan buku berjudul apa juga sih, soalnya cukup coba saya terka aja yang masih coba saya cerna dan meng-iyakan kebenaran-kebenaran yang membuat banyak pertanyaan buat saya pribadi.

Kira-kira ini pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan buat diri saya;

Saya siapa? Saya suka apa? Saya bisa apa? Rencana hidup saya apa? Impian saya apa? Yakinkah dengan impian itu? Apa yang sudah saya lakukan buat rencana saya itu? Bagaimana usaha saya menggapai impian saya?

Jujurkah saya? Sehatkah pola hidup saya?

Ketika pilihan sukses itu ada maka sukses yang bagaimana dan sukses apa? Terus apa yang sedang saya lakukan menuju sukses dalam impian saya? Mau jadi apa?

Terus saya mau kerja apa? Pekerjaan seperti apa? Karier yang bagaimana?

Dari kesemua pertanyaan tersebut ada yang abu-abu, bahkan memang semuanya memunculkan ambigu, kenapa? . Ya karena memang ambigu disini agar saya bisa memikirkan dan mempertimbangkannya, supaya juga ketika menjawab pertanyaan itu haruslah beralasan dan bisa bertanggung jawab akan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan itu benar kemudian saya tulisa dan saya terka kembali diri saya.

Buku yang saya baca ini membuat saya coba memulai hal kecil, berbenah diri. Usia bukan jadi alasan saya mundur dari pilihan-pilihan yang saya ambil, ada yang bilang di usia 24 Tahun menuju 25 kok belum berbuat apa-apa? Kok belum jadi apa-apa? Kok belum punya apa-apa? Atau kok belum ini ?Belum itu? Belum kesana? Belum kesitu? Belum kesini? . Aaaaah… biarlah jangan terpaku di angan-angan saja, maka mencoba menenangkan diri dulu. Dan dengan dalih ini itu saya sebutkan bahwa ini jangan atas dasar materi, posisi dan yang terlihat saja. Ya karena ada hal tersurat dan tersirat juga.

Kemudian yang saya yakini adalah tentang apakah saya punya gairah (passion) yang terus ada? Itu yang laik saya lakukan. Jangan-jangan hanya diawal saja. Dan redup gairah di usia senja nanti?. Dalam satu bahasan lain penting ternyata bahwa kerja cerdas yang ramai dibicarakan adalah belum cukup, ya. Karena perlu juga toh kerja keras itu.

Begitulah. Setidaknya ini bahan ajar diri saya juga agar merefleksi diri karena jangan-jangan saya sadar saya belum ini belum itu ketika nanti saya sudah senja. Jadi tetap positif dengan kebaikan akan membawa pada kebaikan. Sudah dulu biarkan cibirian dan tanggapan dari orang adalah hal yang membangun kepercayaan untuk bisa berbuat lebih baik.

Pokoknya sedang tidak tentang motivasi, dimotivasi, bahkan motivator. Tapi tentang berani berbuat dan bertanggung jawab. Sudah…sudah…sudah dulu biarkan berakhir diakhirnya nanti.

#Rabu.5.3.2014 Jurugsari, Jakal KM.7 Sleman Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s