Aja dumeh; sewajarnya saja, menyadari ada Yang Maha segalanya.

Dalam  Buku 500 Pepatah Untuk Peladjar yang disusun oleh Aman Terbitan Perpusatakaan Perguruan Kementrian P.P dan K. Djakarta Tahun 1954 , buku ini cetakan keenam.  Saya mendapati sebuah pepatah bernomor urut 391 berbunyi sebagai berikut;

Tidak bernasi dibalik kerak

Kiasannja, tak ada orang jang lebih dari pada dia sendiri. Tabiat orang jang sombong, jang menjebut dirinja segala lebih.

Jang sedjalan dengan itu; Tak berudang dibalik batu, tak berbalik itu. Artinja, tak ada orang lagi sebagai dia.

Kemudian pepatah tersebut dilanjutkan dalam pepatah yang bernomor urut 432 berbunyi sebagai berikut;

Tidak berputjuk diatas enau

Dikiaskan pada orang jang sembong atau angkuh, memandang dirinja dalam segala hal lebih dari orang lain, tak ada jang dapat mengatasinja.

Kemudian saya coba telaah ulang dengan buku Pitutur Adi Luhur tentang Ajaran Moral dan Filosofi Hidup Orang Jawa , yang dihimpun dan dipersembahkan oleh ST. S. Tartono , dkk terbitan Yayasan Pustaka Nusantara, cetakan pertama padu bulan Juli 2009. Dalam buku ini disusun dengan alphabet runtun jawa (ha na ca ra ka) misal A maka itu (ha), B itu (ba), N itu (na,nga,nya).  Dalam urutan alphabet A (ha) bernomor urut 20 saya dapati ungkapan yang sering di utarakan orang jawa. Ungkapan itu kemudian saya sambungkan dengan dua pepatah di atas. Ungkapan itu berbunyi ;  Aja dumeh.

Aja dumeh

Di jelaskan dalam buku tersebut seperti ini; Aja dumeh. Itu Jangan sok. Sebuah nasehat agar di manapun, kapanpun, hendaknya orang bersikap wajar. Nasehat ini dimaskudkan untuk mengingatkan setiap orang, anak-anak, kaum muda, siapapun, hendaknya senantiasa bersikap ugahari, sederhana, wajar-wajar saja, low profile. Jangan berlebihan dalam segala hal. Sebab, ada kecenderungan, dalam situasi dan kondisi tertentu, misalnya mendadak menjadi kaya, atau naik pengkat atau jabatan, atau memperoleh strata pendidikan yang lebih tinggi, atau yang memperoleh kelebihan-kelebihan tertentu, orang cenderung berubah perangai. Kelebihan-kelebihan yang tiba-tiba dimilikinya itu cenderung mengubah pola hidup atau sikapnya. Cara pakaian, cara berbicara, cara bersikap, terhadap orang lain, cenderung berubah.

Itu penjelasan di paragraph pertama tentang Aja dumeh. Kemudian di paragraph ketiga di uraikan berikut ini; Aja dumeh adalah ungkapan yang bermuatan petuah agar orang-orang mau membuang jauh-jauh sikap sok semacam itu. Hendaknya orang ingat bahwa bagaimanapun setiap makhluk yang hidup di alam raya ini, terlebih manusia, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehebat-hebatnya seseorang, bagaimanapun pasti dia memiliki kekurangan. Demikian sebaliknya, sekecil dan selemah apapun seseorang, pasti dia memiliki kelebihan. Kelebihan dan kekurangan ini, manakala disimbiosekan, justru bisa menjadi sarana untuk saling meneguhkan, saling menyempurnakan.

Dari dua pepatah dan nasehat Aja dumeh maka secara alami manusia memiliki kelebihan dan pasti juga memiliki kekurangan. Ya sewajarnya dan memang semestinya yang berlebih seharusnya menyadari kekuranganya juga, bahkan sebaliknya yang berkekurangan menyadari pasti Tuhan memberikannya juga kelebihan.

Kenapa kemudian saya uraikan pepatah dan nasehat tersebut adalah lebih kepada apa yang semestinya saya pribadi juga menyadarinya dan menjaga agar kesombongan tak meracuni hati dan tetap elok di mata Tuhan. Atau bahkan apa yang saya coba bagi ini juga menjadi Nampak sombong maka saya sendiri juga berniat ini adalah wahana berbagi yang sejatinya apapun yang kita miliki adalah atas kuasa Illahi, maka jangan di biarkan tau sendiri. Hehehe…

Tulisan ini juga menyikapi apa yang kemarin malam pada hari Rabu, 12 Februari 2014 di kontrakan teman saya dan beberapa teman manyaksikan sebuah video di Youtube tentang seorang yang sudah di sebut Ustadz  melakukan tindakan yang bagi saya tak elok dipandang manusia dan (mungkin) tak elok di mata Tuhan. Kenapa demikian. Iya orang tersebut mencederai kekhasanahan beragama, sebagai penceramah dia melakukan tindakan ambisius menurut saya. Tindakanya menekan kepala seorang piñata suara (sound man) dengan kakinya di hadapan jamaah pengajian yang sedang di ceramahi seorang yang disebut Ustadz tadi.

Miris. Jujur sebagai sesame muslim saya tergoda untuk memaki dan mencaci penceramah tadi. Dan nafas saya naik turun entah kenapa serasa ingin memaki-maki penceramah tersebut. Teman yang melihat saya pun mencoba menenangkan saya dan sembari menertawakan realita kamo tetap menjaga agar tak ikut tergoda rayuan untuk bertindak yang tidak elok (mungkin). Ya penceramah tadi membuat jantung saya berdetak kencang, mata saya berkaca-kaca. Makian pertama saya adalah pada hewan (Asu=Anjing). Ya anjing saya panggil, dan kenapa anjing ? karena memang bagi saya  makian itu terbiasa saya utarakan.

Aduh. Saya juga tak elok memaki sesame wujud manusia. Tapi tak apalah karena siapa sangka seorang yang dikata Ustadz tadi melakukan tindakan yang normal karena dia memiliki amarah, tapi tak wajar karena (mungkin) dia sedang terpancing godaan setan yang mendampinginya setiap saat. Diluar apa yang dia lakukan dan apa penyebabnya saya tak tau pasti, yang jelas apa yang di kabarkan dan saya tonton dari video, maka memang memanusiakan diri sendiri itu lebih sulit dari pada menyuruh orang. Karena bisa jadi menyuruh orang untuk kebaikan sejatinya demi sebuah sanjungan atau demi sebuah materi. Memanusiakan diri sendiri berarti sadar bahwa (saya) manusia, saudara (saya) juga manusia. Sepatutnya tadi diatas Aja dumeh. Kuasa kita terhadap sesuatu itu tak lebih dari secuil Kuasa Illahi.

Kesabaran dan keikhlasan adalah kiat elok agar tetap elok dimata sesame manusia bahkan menjadikan diri sendiri sadar bahwa semua milik Tuhan. Alih-alih sabar dan ikhlas kadang (saya) pribadi juga melakukan sesuatu atas dasar imbalan, materi bahkan atas dorongan orang lain untuk menjadikan pribadi yang sabar dan ikhlas. Ilmunya sulit untuk ikhlas dan sabar. Tetapi tadi dengan Aja dumeh  maka setidaknya kita sadar kita makhluk dan ada Tuhan sebagai sang Khaliq , Yang Maha segalanya. Jadi belajar menyadari kekurangan dan kelebihan kita.

Tetap bersyukur dan mari saya , kita, kamu, mereka dan siapa saja tetap berupaya bersyukur dan tetap yakin ada Yang  Maha Segalanya.

Hehehe… tulisan ini sebagai refleksi diri pribadi saya dan menambah khasanan berbagi, semoga secuil ungkapan dan tulis ulang dari buku ini bisa bermanfaat. Amien

Di kamar kos yang biasa saya tinggali dan masih di wilayah Yogyakarta. Pada 13 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s