Merekam Satu yang Terakhir dari Tujuh

Jangan patah arang. ya begitulah analogi saya untuk memicu kobaran semangat. arang bukan kayu lagi, dia sudah terbakar dan sudah termatangkan oleh proses bakar. jangan patah arang karena tak semua kayu dibakar menjadi arang.

MerakitSampah. ya kawan kadang terhimpit sempit membuat leluasa untuk pasrah, tapi terhimpit sempit juga membuka rongga nafas kita berhamburan lebih dengan usaha lebih untuk bernafas.

hehehe… mas-mase siji iki loh.

lagune yo apik kui “Satu yang terakhir dari tujuh, saatnya tanggalkan baju perangku.” -Fstvlst

merakitsampah

“Satu yang terakhir dari tujuh, saatnya tanggalkan baju perangku.” -Fstvlst

Bagaimana caramu berfestival hari ini? Ketika panggung musik tengah rehat, benarkah tidak ada hal lain yang bisa dan layak di-festival-kan? Yang sama menggembirakan, baik diri sendiri maupun orang di kanan-kiri. Semoga begitu.
Tapi nyatanya, yang sempat terekam tidak selalu semenyenangkan yang ingin diceritakan. Dia (cerita-cerita hari ini) lebih besar, sekaligus lebih sederhana dari yang terpikirkan. Oleh karenanya, putar musik kegemaranmu dan teruslah menerka. Jika bosan, mulailah bertanya pada mereka, yang menangisi akhir pekannya. Atau aku, kalian juga?

image

image

image

image

image

image

image

image

Lihat pos aslinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s