selama sebantar tak selama

Senandung ini teruntuk siapa yang biasa saya biasakan dalam pesan kata berkalimat singkat, Ia yang biasa menjaga sadar akan hati-hati dengan hati baik dengan nurani berbenah diri berpikir dengan pikiran tentunya. Dan Ia yang sadar juga berani berdiri, kini berlari bahkan aku hampiri.

dalam selang waktu sejenak, bukan berarti kalimatku tak nyenyak dipikir
dalam kalimat itu tak sampai jika hanya ku ucap
dalam ucapan itu tak selesai hanya lisan
maka dalam lisan (sedang) berlaku upaya sejalan dengan jalan
entahlah banyak jalan telah ada

sehari seminggu sebulan setahun bahkan selama

tidak (mungkin) bisa sejenak
kalimat itu masih mengganjal
bukan sekelebat saja bayangan itu
ada sosok muncul dan mendekat
menghampir di depan badan
menatap tajam menantang sadar

memang sehari itu tak lama
bahkan tak cukup bagiku bicara kalimat-kalimat

memang seminggu juga sedikit lama
tapi tak perlu lama juga aku mengerti

memang sebulan itu sebentar
tapi tak (mungkin) sebentar aku terjaga
melihat medengar bahkan merasa
(mungkin) buta mata hati
tapi melihat dari hati (juga)

memang setahun juga lama dan sebentar
lama jika tak sebentar waktu bisa berguna
sebentar waktu hilang tak berguna
lama hitungan saja
sebentar dirasa bahkan lalai merasa

selama apapun memang sebentar
selama hidup ini memang fana
ya sebentar saja
selama masih terjaga rasa dan mata tak melihat hanya cela
selama telinga mendengar luka dalam suka
bisa bertingkah (benar) sadar selama waktu yang sebentar berguna

(mungkin) tak mengenal aku dalam hari yang indah
karena (mungkin) hari luka yang ku tahu
bahkan harimu indah kadang aku tak ikut
di luka harimu aku (juga) tak ada.

kisah itu dulu pernah ada
buat selama atau sebentar kamu alami
kamu juga bisa terjaga hingga bangkit dan lari
walau diawal kamu luka
kini memorimu terbuka

di awal kubaca buku dirimu, aku tau kamu
kamu tanya kenapa?
aku tak tau kenapa aku tau

Tuhan memberi mata itu yang ku tahu.

ya itu dulu yang dialami
dulu juga (mungkin) tersakiti
tak baik tak aku
tak buruk tak kamu
kamu aku dalam kebaikan

Catatanku tentang yang biasa menjaga biasaku, adalah Ia yang tau akan sadar akan berbuat mau hidmat dalam kalimat. mungkin telak pukulan bagimu bahkan aku bingung. nyinyir hati lebam nurani, seonggok daging diam dalam ragu, kemudian senyum dalam semu, dan tau dalam diam. (mungkin) saatnya terjaga dan membuka pintu dalam hati-hati nurani.

* catatan siang tentang cerita lama seorang yang menawan dalam diam, sunyi dalam diri, berontak dalam sadar. 24.10.2013 deresan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s