Tetap dengan kebaikan dengan alam lingkungan.

mtf_WVxQj_416

 

Kembali dengan sambutan pagi seperti hari-hari lalu bahwa pagi akan tetap kembali dengan atau tanpa sadar. Pagi ini di penghujung bulan September 2013, tersadar dari lelap tidur, menghantar kawan menuju siang yang akan lebih riuh gempita. Seorang kawan meninggalkan kota Jogja. Ini kedua kalinya saya mengiring dia berlalu menuju kota tempat dia merangkul asa. Ini biasa saja sebenarnya hanya tentang pertemanan dan kedekatan pagi dengan siang sehingga merasa perlu pagi ini saya mengiring kawan satu ini menuju siangnya.

Diawal pekan ini juga saya teringat dengan pesan pendek dari adik saya dewi; isi pesanya “mas ngali apa artinya peribahasa bagai pinang dibelah dua dan bagai katak dalam tempurung?”  . Dewi ini sering ketika dia bingung atau butuh referensi menyelesaikan tugas bahasa Indonesia kelas 6 SD dia akan bertanya saya lewat pesan pendek, googling membantu saya menjawab pertanyaan dia. Kenapa harus kembali ke internet bukan buku? Ini soal efektifitas saya saja dan kontrol akses saya dengan dunia luar. Dan saya pribadi tidak menafikan bahwa era digitalisasi mempermudah saya berhubungan dengan informasi.

Oke kembali dengan pesan pendek ; “mas ngali apa artinya peribahasa bagai pinang dibelah dua dan bagai katak dalam tempurung?”  . Dari dua peribahasa tersebut mungkin Tuhan sedang mengingatkan saya akan luasnya ilmu pengetahuan dan Tuhan memang Maha Tahu. Dewi kali ini sedang dikirim Tuhan untuk mengingatkan kakaknya tentang pengetahuan. “bagai pinang dibelah dua”  saya artikan mirip bahkan sama mendekati serupa, dan “katak dalam tempurung”  adalah pendek akal terkungkung dengan dunianya sendiri terbatasi dengan dunia luar dan sepi dilingkunganya juga kurang dalam keluasan pengetahuanya.

Dan pesan balasan buat Dewi adalah “ bagai pinang dibelah dua itu adalah dua orang atau dua hal yang mirip satu dengan yang lain, atau kembar” sedangkan “bagai katak dalam tempurung itu adalah seseorang yang wawasannya kurang luas” jawaban itu jelas bersumber dari internet .

Entah dari mana sumber aseli saya peroleh ini bukan perihal yang saya uraikan panjang, hanya saja dua peribahasa ini membuka makna-makna lain bagi saya karena benar Dewi sedang dikirim Tuhan untuk saya ingat akan saya adalah makhluk, Tuhan Maha segalanya. Jangan merasa pandai jangan merasa tahu, jangan pula hanya berdiam diri, bahkan jangan tergoda akan rayuan baik yang kadang juga menjerumuskan pada keburukan. Memang mirip itu hampir serupa, maka jika begitu saya menyerupai  kecilnya satu titik diantara ribuan huruf. Titik ini tak nampak dan kadang tak guna, tapi kadang-kadang titik ini menghentikan nafas untuk beradu dengan waktu, mungkin juga titik ini jeda buat otak untuk berpikir.

Memang kakaknya dewi ini sering lalai hingga hal-hal kecil nampak kabur sukar nampak, yang dekat nampak jauh, yang tak perlu akan digunakan, yang perlu malah dibiarkan, mungkin juga niat baik menjadi buruk karena hati berujar pemar.

Biarkan dewi berkembang, apapun cara dia belajar saya tak akan membiarkan dia bagai katak dalam tempurung,.

Kembali dengan pagi, sang kawan yang telah berlalu berkesan biasa saja tapi memang kami biasa-biasa saja tidak berujar kami luar biasa, toh memang kami biasa di luar. Dia bagai pinang dibelah dua dengan dewi dalam arti serupa sama jenis kelaminya. Terakhir bersapa ketika kemarin siang dengan hal kecil dia membuat saya tersenyum kembali. Bungkus cokelat berwarna perak dia bentuk sesuai suasana hatinya mungkin, karena bentuknya mengingatkan saya tentang cinta kasih terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang di dekat kita. Konsep bungkus cokelat juga memunculkan pemikiran bahwa itu bagian luar alias bungkus cokelat yang manis. Analoginya bahwa bungkus cokelat ini jika tak dibuka kita tak tahu bahwa di dalamnya cokelat. Dan itulah konsepsi yang menarik untuk saya memikirkanya.

Kenapa hal kecil ini atau benda serupa suasana hati kawan saya itu dari bungkus cokelat, kemudian berbentuk karena mungkin sesuai suasana hati teman saya. Iya ini juga pelajaran buat saya bahwa janganlah terkesima dengan bungkusnya atau mungkin wajah bahkan fisiknya, coba buka hati dan lihat ke hati apakah itu dia cokelat yang katanya manis? Dan penampakan luar itu bisa berupa apa saja buktinya dengan ide, teman saya bisa membuat bentuk dari bungkus cokelat yang awalnya saya kira bandul kalung berbentuk hati dari perak. Nah kan !!! rupanya saya bahkan mungkin orang kebanyakan mengira bahwa apa yang terlihat itu bagus di luar maka itu lah isinya juga bagus. Atau sebaliknya.

Jadi belajar dengan hal sekecil apa saja bagi saya adalah lingkungan yang tak terbatasi ruang dan waktu, digitalisasi ini membuat semua terlihat mudah bahkan kadang menyepelekan itu mudah dari pada sejenak membaca dan melihat sekitar.

Tetap dengan kebaikan , menjadi puteri dan dewi bagi diri dan alam lingkungan. juga menjadi putera dan dewa yang biasa.

#menjemput pagi di ruang penghujung september 30-9-13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s