Berjodoh dengan pagi. Jangan Pergi

…Pagi jangan pergi
Ku takut malam nanti ku masih sendiri
Dan pagimu tak lagi indah…

(sebait lirik dilagu “Pagi” Dialog Dini Hari)

Kembali dengan pagi, setelah malam-malam diawal minggu ini saya lalui di berbagai suasana; kamar kost kawan, kontrakan kawan hingga kantor tempat kawan kerja bahkan lagi dikedai kopi. tak pulang dan lelap di kamar sendiri.

Benar juga lirik bait lagu diatas itu. Pagi menghanyutkan saya dan malam-malam membawa pada keheningan dan petang, seharusnya menjadi area berkontemplasi supaya gerak nyata tak berhamburan tanpa alur.

Pagi membuat mula berhamburan, masih dari kamar bercintaku dengan waktu. Pagi ini kantuk tak membuat lelap, hari jumat pagi ini mentari terik juga, doa-doa pagi agar hari ini berguna terkikis dengan termangu mengamati seabrek kode-kode dari tumpukan buku yang coba saya rumuskaan untuk tulisan pelengkap laporan projek akhir studi yang masih saja kaku. Heemmm nampaknya ritme otak mengalir bebas tidak terkontrol hingga saya bingung data mana saja yang bisa saya ambil. Hahaha….DASAR MALAS!!!

Kemarin. Ya kemarin. Seorang kawan bercerita tentang kesetiianya terhadap sang kekasih. Hahaha….apalagi ini saya bahas? Oke biarlah saya tulisakan saja obrolan pagi yang telah lalu itu. Kenapa kok temanya setia? Kalau dari sumber yang berasal di aplikasi KBBI offline, arti setia itu; berpegang teguh, patuh bahkan taat artinya.

Semacam keimanan atau ketakwaan beragama mungkin itu setia. Yang ini bukan soal beragam karena sedang memahami berpatuh pada kekasih. Kawan saya ini dia perempuan biasa saja yang menurutnya sifat setianya itu adalah membingungkan dia. Setia pada kekasih membuatnya sulit mencari kekasih yang baru. Cie cie cie mbahas kekasih kekasih, macam topik asyik para pencari pacar hahaha… iya dia merasa aneh soal setia ini. Kok katanya bisa-bisanya dia sesetia itu. Ibarat pagi yang setia pada waktunya pagi, begitu saya ibaratkan.

Nah iya era kini saya dapati kata move on yang tidak akan saya artikan dalam arti kamusnya. Saya artikan saja dalam makna saya saja. Ya dari kata itu saya beranggapan move on itu semacam menu dalam diri kita yang kadang juga menjadi move off . Iya ini bisa on atau off gitu maksud saya. Jadi menu ini seharunya bisa fleksibel alias dinamis deh, soalnya saya juga tak tau maksudnya menu move on ini. Toh kalau mau bangkit dari renggangnya hubungan dengan kekasih atau bahkan diputuskan kekasih itu bisa cobaan bisa juga godaan. Nah loh ini apa coba? Hahaha…

Lanjut move on. Iya itu semacam jangan terus terkungkung dengan sosok sang kekasih lama. Toh jodoh dikata oleh para da’i atau ustad yang saya dengar ‘jodoh ditangan tuhan’. Nah loh? Apakah Tuhan akan memberikan itu jodoh pada kita? Atau Tuhan akan meminta imbalan jika kita akan mendapatkan jodoh itu? Atau apa coba?. Sebenarnya maksudnya sih jodoh itu sudah menjadi suratan takdir. Dan penyemangat saya adalah Tuhan telah menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan.

Tuhan telah menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan. Kenapa coba saya tebalkan kalimat itu? Ya karena biar saya juga maksud dengan pertanda diciptakan manusia untun berpasang-pasangan. Iya tenang saja sudah ada jodoh bagi masing-masing manusia kok. Eh tetapi ingat ye takdir itu bisa berubah atau manusia bisa merubahnya dengan caranya sebagai makhluk Tuhan. Iya misal gini saya tak pandai bahasa inggris jika saya memang ditakdirkan sukar berbhasa inggris sampai saat ini, maka saya lah faktor pemulus takdir itu berjalan, padahal saya bisa belajar bahasa inggris kok, buktinya ada applikasi di ponsel saya yang bisa menerjemahkan kata bahasa inggris, atau ada kamus. Ya semacam itu mungkin jodoh yang ditakdirkan Tuhan. Jika sampai saat ini belum bisa mendapatka jodoh maka jemputlah jodoh itu entah dimana dan sedang sama siapa jodoh itu.

Bahkan dalam nalar saya jodoh itu beragam, ini bukan masalah kekasih pria atau wanita saja. Saya berjodoh dengan pekerjaan saya itu juga bisa takdir atau saya bisa menjemput dan berusaha mendapatkan pekerjaan saya itu juga mencari jodoh dengan pekerjaan. Bahkan saya membeli rokok di warung itu juga saya berjodoh dengan rokok. Maka jangan meratapi kok masih jomblo? Nah kok nyangkut di jomlo segala? Maaf deh ini korelasi saja dengan move on tadi. Atau ini semacam analogi agar berjodoh dengan pemahaman saya.

Jelas atau tidak begitu saja sih. Ya soal teman saya yang belum move on itu mungkin butuh ada pria semacam saya ini menyalakan menu yang sedang off untuk di on. Atau memang teman saya itu sedang belum ingin berpaling dari kekasih lamanya. Mungkin juga hati berperasaanya belum menemukan penerjemah bahasa-bahasa cinta dari lingkungannya. Atau biarkan dia menjemput mungkin menunggu dinamisme perjodohan Tuhan.

Nah lebar berhamburan juga ini tulisan saya. Pagi, setia, ketakwaan, Tuhan, jodoh, move on, bahkan bahasa inggris. Hahaha mungkin in memang dinamisme saya saja biar tak statis. Mungkin pagi mengawali dengan berhamburan dengan perjodohan Tuhan hari ini dengan segala takdri di hari ini. Bertemeu pagi ini, makanan, rokok, kopi, sarapan, buku-buku, televisi, hingga mandi pagi itu semacam rutinitas yang menjadi jodoh pagi ini.

Kontemplasi saya temukan dimana saya nyaman melaluinya, tak perlu malam mungkin? Karena pagi adalah waktu dimana pemahaman tentang semua awal dimengerti, seranum buah bahkan seperawan gadis yang sukar ditelaah jika sekedar seksualitas saja, mungkin juga pagi sukar dimaknai karena jodoh dipagi ini kita lalui dengan lelap bertemu siang.

Pagi.

#di kamar deresan. 30.8.13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s