Meraba rasa

Ini tulisan ke-60 dalam akun blog ini. Akun ini berulang tahun ke-3 seperti ucapan sebelum postingan ini. tetapi saya sedang tidak akan bertutur soal blog ini di hari ulang tahunya.
image

bulan agustus tahun ini banyak sekali yang secara langsung merubah berbagai hal dalam diri maupun diluar diri saya. Tuhan sedang mengingatkan atau mungkin memang ini alurNya yang sedang saya lalui. sebenarnya bukan sedang akan bercurah hati atau mengungkap kisah pribadi tapi apa sih ini namanya? mungkin seadanya saja biar tetap saya tuliskan.

gadis-gadis manis yang menggoda hahaha, pria-pria menginspirasi diri untuk menjadi lelaki berguna, pindah tempat kost, pertemanan dengan orang baru, renggangnya hubungan dengan kekasih, hingga pekerjaan sampingan yang mulai meredup berimbas pada ketahanan diri untuk coba berhemat, serta ajakan bekerja di kantor yang tak membuat saya tertarik, keluarga yang sedang melihat gerak kedepan saya mau apa, dan banyak hal pokoknya. yah karena ini semua berhubungan dengan preferensi diri mungkin akan nampak curahan hati tertuang lumer antah berantah.

kepercayaan saya akan ketuhanan kali ini tiba-tiba menguat, entah karena banyak yang mengingatkan, padahal ramadhan tahun ini esensi puasa tidak sama sekali saya rasakan, bahkan tarawihpun bisa dikata tak terlaksana sebagaimana mestinya. malahan setelah ramadhan ini muncullah pemantik ibadah akan segala hal, moga aja ini niat baik. atau sehari saja saya merasa perlu ibadah? entahlah dijalani saja sudah. toh ibadah jangan berburu pujiankan?

Akir pekan minggu ke-3 agustus ini, beragam hal menyadarkan tentang jalinan silaturahmi antar keluarga, teman hingga lingkungan sekitar. Menjaga bukan sekedar melihatnya atau mengutarakan komentar peduli. Tapi menjaga adalah menjalin dalam rasa agar tetap saling terjaga silaturahminya.

Kabar dari seberang pulau jawa berkabar ada kendaraan baru milik ayah yang lama beliau idamkan fungsinya, yap membantu mempermudah kinerja ayah yang usianya mulai senja, entah beroda dua atau empat saya tak tau bahkan mungkin tak beroda. Ya karena roda kehidupan keluarga- keluarga tetap berputar. Kabar dari pegunungan para dewa di kedinginan komplek candi pandawa berkabar rindu akan tatap muka dan pertemuan tungku yang hangat oleh obrolan. Semoga ayah bukan kandung tetapi sedarah dengan ayah saya, mereka tetap dalam barokah. Apalagi kabar dewi yang mulai tahu bahwa biaya pendidikan kelewat mahal dinilai dari finansial, simbah juga mulai kangen berkumpul dengan cucunya di ruang keluarga atau ruang makan setiap hari. Kabar keluarga yang lain dari mana-mana tetap terjaga semoga tidak lelap dalam buaian duniawi.

Macam risalah saja semuanya mesti ku tulis. Tapi memang asyiik itu jika tidak asyik sendiri. Apalagi kasih sayang yang hilang kena terpaan obrolan.

Imajinasi saya perihal akhir hayat mendekatkan hati dengan Tuhan. Tak nyata gerak sujud tapi tak lupa akan karuniaNya. Yang Maha Kasih dan Penyayang adalah Yang Esa. Limpahkan budaya ingat akan kebaikan dan hindarkan dari bahaya dengki. Kami berserah semoga dalam segala kondisi.

Saya biarkan menguap tentang perasaan karena nalar masih ada dan tindakan sepatutnya saya lakulan. Oh oh oh apakah ini semacam renungan? Atau ini semacam kepiawaian meraba saja tanpa mau merasa.

Selayaknya ingin jadi penceritera saja.

#dari kerumunan dan tingginya atap, berteman hilir mudik kendaraan. Di area terbuka atap 23-25.8.23
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s