mendayu semu

sedini pagi,masih hinggap penat di kepala tiada lekas pulih. barusan dalam sekejab pertemuan membuktikan keikhlasan itu butuh cara berjuang melawan malu apalagi melawan ragu. Tuhan tidak mengada-ada dengan suratan takdir, bukan juga Tuhan bercanda, semua sudah ada tatanan dalam kehidupan ini. yang berkuasa tetap Tuhan, karena manusia adalah hamba-Nya. maka saya mencoba memakhlukan diri saya sebagaimana mesti manusia. belajar ikhlas itu jangan sekenanya dan jangan juga saya tak ikhlas belajar ikhlas kemudian menerapkan ikhlas dalam berkehidupan.

hal ikhlas tersebut entah mengapa menarik saya untuk menulisakan ini. iya tepat sekali setelah badai kesenangan tiba-tiba hilang terbawa air mata. dalam dekapan waktu saya terlena bahkan semena-mena terhadap kesadaran bersama menjalani silaturahmi kasih. dia si manusia beda jenis kelamin denganku menghentakkan sadarku tentang emansipasi. oh entahlah dia dapat anugerah dari mana hingga saya melalaikan dia dalam remang pagi hingga pagi lagi. menganggap mudah menjalinnya tetapi susah membiarkanya menjauh dalam tatapan juga nurani.

bodoh. begitulah mungkin. saya lupa tidak sendiri. tidak bisa sendiri. kini belum bisa dan susah bisa bertengger kembali menghampiri silaturahmi kasih itu. si manusia beda jenis kelamin itu sukar kini kuhampiri dengan muka bahkan kata. kejenuhan lalu membuat dia tak merasa layak menjaga silaturahmi kasih itu. mungkin juga dia merasa tak ku sambangi dalam setiap kata doa. sebatas lahiriah saja saya menyapanya. bahkan kebaikan yang seakan saya nampakkan adalah semu saja. memang kini saat yang sukar bagi dia bahkan saya merasa terbirit-birit.

tidak ada air mata mengalir begitu mudah, sulit tangisan-tangisan bukan gembira kini dia akan hengkang, namun buat apalah tangisan itu jika masih saja raga ini biasa. satu pesan dari dia jangan sia-siakan waktumu, tetap jaga kesehatan, jangan tidak ingat Tuhan juga orang tua, dan yang terpenting jangan terpuruk jika tetap tidak menjadi berguna. hahaha… apalah ini itu tak tau diri ini,masih pilu nampaknya.

tulisan ini tak ubahnya bukti saya tak keman-mana masih biasa. belum juga bergerak mungkin bertengger kembali agak sukar diterima. memang jangan gemar didunia karena akherat juga masih ada. tapi dunia yang ku gemari adalah bekal menuju akherat atau sebaliknya akherat yang ku tuju adalah alasan kenapa dunia ini ku gemari. semacam candu kadang kasih itu membuat pilu.

lain sisi diseonggok daging milikku ada manusia semacam dia yang beda dengannya. tak ubahnya bergerak tak pasti mungkin saya sekedar beranjak memijakkan kaki pada sisi yang lain. namun sisi yang kemarin masih ada dan nyata tak kuasa lagi untuk tidak ingat. melupakannya tak sesulit menulisnya atau terbalik maksudnya. hahaha… hore adalah ketika kesenangan itu bisa disenangi dengan tidak heboh di kesendirian.

Tuhan. jaga dia walau takdirMu masih terus berproses hingga dimana akherat menghilangkan dunia, dia tak istimewa bahkan tak elok tapi dia tertata untuk tetap menghamba padaMu. Tuhan. biarkan jika kembali adalah jalan sehat dan biarkan juga pergi adalah jalan sehat. tak negatif naluriku untuk belajar ikhlas walau pilu membuatku dirundung sendu. mungkin pagi ini akan terus ada hingga akan ada pagi lagi. saya rindu pagi hingga pagi kembali.

dekapan waktu hampir menuju tahun ke-5 dan semua tak sia-sia. Tuhan mempertemukan kami dalam segala kuasaNya. tiada setan yang tak menggoda, malaikatpun mau menjelma dalam suka. tak ada alasan pasti bisa saya kata-kata. toh alasan itu sama sekali tak membuatku terima dengan semua. karena hanya kasih berterima dalam kata terima kasih, begitulah kiranya doa-doa tetap dalam mensyukuri dengan tiada tinggi rasa.

kembali dengan dia sejalan bergandengan bahkan merangkul pundaknya. tak sampai kini kasih itu. lekas disuruh menjauh namun pilu semakin merindu padanya. sosok-sosok selainya membuat pagi kembali lagi dan terkadang petang malam menghampiri hingga dia muncul dalam mimpi pagiku. sekejab muka bertemu selama nurani tetap merdu untuk satu selip nama dalam doa-doa. air mata tak terjaga, nafsu berburu, mata menatap sayu, bibir meracau kata tak beraturan. kami biasa saja. Engkau Tuhan Maha Luar Biasa. bimbing kami dengan seadanya karena kami tak akan mengada-ada menjauhi takdirMu.

dipersimpangan jaman pertemuan gempita semoga ada bahagia yang tetap mengikhlaskan doa-doa kami. bersatu soal rasa bertemu dalam beda raga. mungkin kami terlalu pagi terjaga hingga ketika malam datang sukar lelap menjemput mimpi. ijinkan dia ikhlas dengan caranya. saya belum ikhlas karena ini tek terluka hanya saja membekas memori kalbu. manis sekali bahkan pahitnya membuat candu. dasar muda tak tau diri hingga lalai tua akan tiba. ingatkan pada siapa saja disisinya semoga sosok itu menjamahnya dengan Tuhan selalu bersamanya. entah saya atau siapa baginya. takdirMu Tuhan tiada saya menebaknya. bukannya tak menjemputnya dalam pilu bukan juga tak mau berbahagia dan membahagiakanya. belum saatnya mungkin itulah tepatnya. masih yakin Tuhan akan mempertemukan kami dilain sisi dengan lebih kasih Tuhan memberkahi.

angan-angan didepan sudah pernah terurai bersamanya. malam-malam penuh warna dilalui berselimut mesra menjemput pagi kembali saat tersadar akan nyatanya kami belum berbuat apa-apa. tak ku lepas sesuka hati karena hati masih menyukai. dia lain dari saya tapi dia ada dalam saya punya suara-suara kuat untuk hidup kuat.

dalam nama Tuhan . amien.
ridhai kami Tuhan . amien.
bersama bahagia untuk kami. amien.

#dari pelamunan pagi 20.8.13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s