tak sehangat teh dicangkir ini

hujan lagi
tak seterik mentari siang kemarin.
masih menyeduh teh pagi ini
meminum berlahan
sesruput hingga secangkir
masih hangat mungkin.

masih ingat pernah seduduk berdua
termangu menanti kata.
pernah menatap sayu tepian jalan
menghirup semerbak aroma pagi
terdengar nada mendayu-dayu
terbawa dalam alunan melodi.

secangkir teh masih hangat.

tiada kata usai
ini masih pagi
hujan akan reda
nanti mentari muncul kembali.

tak sehangat teh dicangkir ini

kata maluku tak percaya lagi
kata maafku tak bernada lagi
kata serakku tak berbunyi

rasa rindu tak berpaling dariku

tak sehangat teh dicangkir ini

bukan tak bisa bersandar dibahu
bukan juga tak mendekap raga

benar,
hujan membuat hangat suasana
seharusnya
secangkir teh hangat
seharusnya

tak sehangat teh dicangkir ini

masih tiada kata
seduduk berdua bukan tanpa rasa.
secangkir teh hangat masih beraroma
masih saling menggenggam secangkir teh hangat ini.

sedari hujan turun
sesruput mungkin secangkir
tak terasa manis atau tawar
bahkan pahitnya tak tau.

tak sehangat teh dicangkir ini

mentari masih akan bersinar
mendung masih menang
reda hujan juga tak membuat elok pagi.
hanya hangat secangkir teh ini
bisa membawa kata.

lama tak berkata-kata
hinggga teh dicangkir ini masih
manis rasa pahit rasa tawar juga bisa.

sama sekali
tidak sama sekali
hingga berkali-kali
tak sehangat teh dicangkir ini
lupa berkata-katakah?
jika tau rasa tak tau kata
jika malu mata tak mau telingga
jika duka tak berbalas lara
jika suka tak bisa gembira
jika dan hanya jika tuhan yang kuasa

hujan benar-benar akan reda
masih menatap sayu.

tak sehangat teh dicangkir ini.

genggaman tangan ini hanya sepi
tak ada lawan kata.

sedari dini tak kau tuangkan air
secangkir teh ini hangat dalam angan
tak terseduh sendiri
tak sesruput bahkan secangkir
tak sehangat teh dicangkir ini
tak tau rasa sekali
hujan reda
mentari akan melongok
mata masih sayu
kata tiada arti.

terima kasih teh dicangkir ini tak sehangat lagi tak berasa.

mungkin ku awali menyeduhnya.

Rayuan dini yang membawa rasa rindu pagi mentari menyinari dan terik siang menyongsong senja menghantar petang malam. dari peraduan jaka menyapa suara sumbang. terhanyut dalam hegemoni pecinta kopi yang menunggu secangkir teh hangat diseduh dengan hati.

Terima kasih kopi. secangkir teh ini mungkin hangat. hanya saja tak ku seduh.

pcgp.15.7.13
masih dengan nama sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s