Omong-omong

Ini tentang kebiasaan yang sama sekali tidak dibiasakan oleh hal yang semestinya biasa-biasa saja, karena terbiasa dengan bukan biasa yang tidak menjadi kebiasaan, pastilah tentang biasa ini beda sama sekali bahkan berkali-kali. Rupanya ada salah kaprah dalam nalar saya tentang memudahkan kesulitan, seharusnya biarlah kesulitan itu tetap dengan sifat sulitnya walau kemudian akan menjadi dimudahkan dalam mengurai sulit hingga peroleh cara yang sesuai agar kesulitan tidak menjadi kedengkian. Tapi apalah itu saya sekedar berujar saja tanpa tau apa tulisan ini mudah dari kesulitan hingga akan berimbas biasa saja bukan yang tidak biasa.

Akankah berujung pada penyesalan dan kepenatan saja jika semuanya mesti dijalani tanpa ujung? Kiranya rasa-rasa tak berasa sekali mana baiknya dari perjalanan sedini ini, mungkin baru saja menapaki saja, atau bahkan kesemuanya belum menjadi berarti karena ini itu masih secuil asa yang menggelembung tinggi, macam pintar saja raga ini tak pedulikan jiwa yang semakin berumur walau usia baru berkepala dua.

Selaiknya tak membuat gentar raga-jiwa untuk terus menampakkan eksistensinya di mayapada ini karena memang tiada kekal ketika jiwa masih menjatu dengan raga merupa fisik nyata yang tak perlu diraba saja sudah nampak fisik ini ada. Tapi keberadaan ini tak semata ada saja kan? Toh tetap perlu kiranya mewujudakan keberadaan fisik ini tak sekedar ada saja tanpa peduli esensi ciptaan Tuhan berupa makhluk sesempurna manusia ini berguna sebagai khalifah didunia.

Yasudahlah karena persoalan omong-omong ini berupa kegelisahan akan mimpi yang terbangun sedini ini, bukan tidak mungkin mimpi-mimpi itu menjadikan tak bangun untuk berbuat nyata hanya terlena dibuai mimpi belaka. Pasti aka nada saat dimana sadar dari buaian mimpi ini, dan jangan tanya kapan pasti bangun itu? Karena akan menjadi ketidak pastian jika hanya saya tanyakan apa impian saya?

Tak penting sama sekali membaur dengan impian-impian yang merangsang pikiran agar bertindak semangat tapi tak mau bertindak, atau terdiam dengan senyuman dalam angan padahal dalam nyatanya tak mau tersenyum untuk melegakan setiap niat yang baik akan berujung baik juga. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Maha Mengerti , maka saya tak harus menunggu belas kasih-sayang dan pengertian manusia lain untuk bertingkah baik karena Tuhan yang memiliki segalanya, serahkan dan percaya saja padaNya niscaya semoga tiada kesia-siaan jika mau berbaik sangka terhadap karunia Tuhan dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Cukup. Tak laik dan tak ada alasan menolak kehendak Tuhan,maka semoga Tuhan memberi keberkahan untuk karunia dan jangan jadikan diri ini ingkar. Semoga. Amien.
PCGP | 4.3.2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s