(1)“maunya cepat jadi atau maunya cepat bisa”

Lagi dan lagi coba saya berkisah atau bertutur tentang perubahan.

Perubahan menimbulkan banyak akibat dari sebab yang terjadi, ambil contoh langsung saja ya; dulu kebiasaan saya semasa belum kuliah alias masa SMK saya jarang mengonsumsi mie instan, namun kini lain ceritanya ketika saya kuliah, maklum yang instan itu kadang lebih menggiurkan, dengan dalih murah dan cepat maka mie instan sering saya konsumsi. Sarapan pagi yang tadinya makan nasi sekarang instan saja dengan mie instan, biar lebih keren ditambah telur cukup sudah membikin perut terisi. Imbasnya pola makan kurang teratur, makan siang menjadi sarapan, makan malam menjadi makan siang dan makan malam.

Sebabnya sih tidak rumit kenapa saya mesti mengonsumsi mie instan, yang jelas embel-embel hemat pengeluaran jadi alesan, padahal alibi saja karena diposisikan dalam situasi yang sudah merubah kebiasaan saya sehari-hari. Toh pengeluaran jajan harian masih aja boros walau makanya mie instan. Kenapa boros? Ya memang sudah begitu, tapi belum bias dikatakan boros juga kalo disesuaikan dengan pengeluaran teman-teman saya yang lain atau orang disekitar saya, boros itu alas an saya saja karena sering jajan in dan itu.

Itu sedikit contoh kebiasaan yang coba saya jelaskan untuk saya pribadi memahami sebab-akibat kemudaian ada aksi perubahan pada kebiasan.

Kembali lagi pada mie instan tadi, yang dimana ketika saya menulis ini perut saya baru terisi mie instan goring ditambah telur. Tapi bukan mau bertutur soal mie instan tadi, ini saya coba mau bertutur tentang kata instan saja soalnya mienya sudah saya makan buat sarapan.

Instan dalam pemaknaan saya kata instan itu bermakna siap jadi, siap saji, siap ada, dan cepat atau lebih tepatnya saya memaknainya dengan “maunya cepat jadi atau maunya cepat bisa”. Kalo bicara instan kemudian saya memaknai “maunya cepat jadi atau maunya cepat bisa” maka saya meng-iyakan dan setuju dengan makna instan tadi. Kenapa setuju? Ya jelas setuju itu pendapat saya koq.

Maka kemudian yang disebut proses hingga apa yang dikata sebab-akibat menjadi terlupakan, bagaimana tidak wong “maunya cepat jadi atau maunya cepat bisa”? padahal ketika ngomongin perubahan itu tidak ada yang instan atau bahasa saya “ujug-ujug malih (tiba-tiba berubah)”. Ya mungkin karena saya sering melihat sinetron yang tiap episodenya berubah-rubah atau beda-beda maka saya juga menikmati tontonan yang lama-lama jadi tuntunan. Itu kejelakan saya ketika melihat tontonan sinetron kemudian manjadikanya acuan untuk dicontoh.

Contoh lagi; pernah saya nonton sinetron yang ceritanya tentang percintaan remaja dimasa kuliah, disana ada seorang cowok yang tajir dalam tanda kutip kaya harta jika dipandang, ada seorang cewek yang tajir juga menjadi pasangan pacaranya, kemudian ada pemeran lain yang biasa-biasa saja atau bahkan tanda kutip tidak biasa karena dia tidak kaya. Si cowok tajir dan pacarnya itu anak orang kaya harta jika dilihat, maka jelas hidupnya beda dengan pemeran lain yang tidak biasa tadi. Tiba-tiba ada pemeran cewek yang tidak biasa dengan paras ayu berteman dengan cowok yang tidak biasa jugadan mereka dekat sekali dalam hal pertemanan, hingga si cowok jatuh cinta pada temen ceweknya yang tidak biasa tadi. Tanpa sengaja cowok tajir tiba-tiba ketemu dengan cewek yang tidak biasa dan jatuh hati juga, lambat laun si cowok tajir dan cewek tidak biasa dekat. Mereka sering ketemu dan si cowok tajir sering jemput si cewek tidak biasa tadi.

Nah si pacar alias cewek tajir memergoki cowoknya jalan berdua dengan cewek tidak biasa tadi, munculah rasa cemburu, kemudian timbulah hasrat memusuhi cewek tidak biasa tadi. Dikerjain dikelas, diancam, dihina, dimaki menjadi kebiasaan dan adegan yang menarik ditonton dalam sinetron. Memang pelik ceritanya dan membuat saya asyik bercampur penasaran bagaimana kisah selanjutnya ya? Soalnya ada kata bersambung pada detik-detik akhir penayangan sinetron tersebut.

Ikutan bersambung….. 

PCGP | 17-10-12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s