Menjadi berubah terbiasa

Banyak hal tentang perubahan, berubah bukan berarti menjadi lain atau rupa bentuk menjadi beda dari sebelumnya, lain halnya dengan berubah sikap. Bisa diartikan berubah sikap itu menjadi beda dengan sikap sebelumnya, misal ketika saya awal-awal masuk di sekolah menengah kejuruan sikap awal masih sekedar semangat berangkat sekolah dan belum memiliki sikap atau tujuan diakhir masa sekolah kejuruan apa yang saya harus bisa, namun ketika tahun kedua sekolah mulai saya menemukan kebiasaan yang lain, saya sering ikutan kegiatan ekstrakurikuler, sering pulang sore bahkan malam dengan alasan saya aktif ber-ekstrakurikuler. Atau ketika awalnya saya biasa bangun tidur pagi hari sekali malah kini saya sering baru tidur saat pagi hari tiba. Tapi entah itu berubah sikap atau kebiasaan yang berubah atau malah menjadi terbiasa dengan kebiasaan tersebut.

Saya sendiri masih mempertanyakan apa yang disebut “beribah sikap” tersebut, soalnya sering perubahan kebiasaan saya tersebut merubah juga sikap saya. Coba saya contohkan lagi awal ketika sekolah kejuruan sikap saya masih “malu-malu” , ya malu-malu disini bukan karena malu-maluin tapi mungkin sebagai naluri sikap saya agar diawal lebih baik saya supaya proses adaptasi tidak serta-merta menerima hal baru tanpa mempertimbangkan imbas kelingkungan pribadi.

Atau banyak hal lagi ketika diforum diskusi, kemudian sang pembicara dan moderator memberi kesempatan bertanya, dengan berupaya menjaga sikap atau memang tidak mengerti akan apa yang didiskusikan dan bingung saya akan lebih senang diam dengan menyimak saja. Waktu kuliah juga begitu sih kebanyakan diawal diam saja menyimak tak mempertanyakan dan mengajukan pendapat ketika ada wadah bertanya di kelas. Malah kadang ketiduran dikelas menjadi kebiasaan, bagaimana tidak keseringan tidur ketika pagi tiba dan harus kuliah pagi pula.

Kembali tentang “berubah sikap” yang diatas tersebut coba saya utarakan perbandinganya dengan kebiasaan yang menjadi beda. Ya dengan hal tersebut semoga saya mengerti bahwa berubah itu tak mesti rupa dan bentuk menjadi beda, sikap dan kebiasaan juga bisa berubah. Jadi ketika ada seorang teman yang ketika awal kenal dia masih malu-malu sekarang menjadi terbuka dan bisa membaur seiring waktu yang terus bergulir, kesemuanya memang ada ketidak baikan dan ada kebaikan dalam perubahan.

Coba saja kita membaca keadaan sekarang, pasti ada perubahan yang berbuah baik atau buruk yang terjadi. Walau sebenarnya jangan cukup dengan menilau baik-buruknya, toh ada aspel lain. Kebanyakan masyarakat dilingkungan saya terbiasa dengan penilaian; sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, lumayan, buruk atau sangat buruk.

Setidaknya perubahan itu menjadikan penilaian tertentu tergantung kadar perubahanya. Bentuk dan rupa berubah, sikap dan kebiasaan berubah hingga usia berubah tua, atau bahkan kebaikan belum tentu dinilai baik. Tapi setidaknya perubahan menjadikan hal lain yang bisa berimbas dalam sagala hal.

Mekaten lan sak menten anggene matur mugi tulisan menika mboten agawe duka utawa dados cleaning penggalih.

PCGP | 12.10.12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s