Risaukah saya ini? Ya. iya benar saya risau

Saya tertarik dan tergoda sekali ketika ada tawaran buat segera merampungkan studi, bagaimana tidak, 3,5 Tahun sudah dilalui buat menapaki jenjang studi calon sarjana, malah sekarang sudah tahun ke-4. Buat kawan, lawan, teman, sodara, kenalan, atau sejawat, seangkatan, sepenanggungan, seperjalanan, seruangan, sekelas, sebangku, seusia, sesame pria, selain pria, semacam cantik, semacam tampan kalian sudah harus dulu belajar diluar wadah institusi pendidikan tinggi. Sekarang belajar dengan institusi pendidikan alam lingkunganmu untuk hidup, atau apa saja karena saya juga mencari-cari yang laik pokoknya.

Bukan perihal masih mau duduk santai sebagai penganggur dalam arti bukan pekerja yang tidak dapat kerjaan atau kena PHK, ini perihal penganggur dalam konteks yang saya bicarakan adalah belajar sembari menunggu saat tepat untuk benar-benar siap mencalonkan jadi sarjana. Atau entah apalah saya ini yang masih dini buat berkata saya nikmati berlama-lama menjadi pelajar, padahal sampai kapanpun saya pelajar, dimana saya bukan belajar dalam kelas dan institusi pendidikan tapi juga pelajar dalam kehidupan ini, hehehe…

Sebijak saya bicara saat ini mungkin akan seceroboh bagi lain orang, toh yang menilai bukan pak guru tapi lain manusia bukan dengan kekuasaan untuk berkuasa terhadap saya.

Sejatinya lama atau tidak mengenyam pendidikan dalam wadah institusi pendidikan itu tak masalah. Yang jadi masalah ketika saya sendiri mempermasalahkan hal tersebut. Akan banyak alasan ketika benar-benar dalam posisi harus menimang pilihan mana yang laik buat kedepan, kalkulasi normal saya baru 4 tahun dan belum cukup dalam mengarungi gelora diri untuk terus bercumbu dengan suasana ‘keyakinan’ akan perjuangan kebebasan berpikir. Semakin kesini dan mungkin nanti kesana akan lebih wah lagi ‘keyakinan’ itu. Ambisi mencari ‘keyakinan’ yang merangsang untuk berpikir alternatif semakin kuat. Bahkan ketika menulis tulisan ini ‘keyakinan’ akan kebebasan dan keluasan pikir menjadi-jadi.

Dengan segala kesombongan diri mencoba menalarkan yang belum bisa nalar, membolehkan yang jarang diperbolehkan, membeli apa yang belum bisa dibeli, dan menjual apa yang belum dimiliki. Bukan berhitung untung-rugi. ‘keyakinan’ ini kuat sekuat tiang kayu yang nantinya akan keropos juga. Benar. Kuat yang paling kuat adalah kekuatan berpikir jernih. Dan Tuhan ada disegala yang paling Kuasa.

Kembali sebagai calon sarjana yang masih sedini ini sudah didahului calon lain yang sudah lebih dulu dinyatakan lolos dan jadi sarjana. Senyatanya kenyataan lolos mereka adalah mereka yang tau. Karena tadi Kuat yang paling kuat adalah kekuatan berpikir jernih. Dan Tuhan ada disegala yang paling Kuasa.

Sepertinya tulisan ini bentuk refleksi kecemburuan diri terhadap apa-apa yang dengan segala kesombongan diri mencoba menalarkan yang belum bisa nalar, membolehkan yang jarang diperbolehkan, membeli apa yang belum bisa dibeli, dan menjual apa yang belum dimiliki..

Risaukah saya ini? Ya. iya benar saya risau, risau diri akan siapa nanti calon presiden yang bakal jadi presiden? Atau calon gubernur yang bakal jadi gubernur. Tau saya calon sarjana yang nantinya menjadi sarjana.

Jadi kepikiran bener dengan ‘sarjana’. Dan ini dia pencerahan dari KBBI

sar•ja•na n 1 orang pandai (ahli ilmu pengetahuan); 2 gelar strata satu yg dicapai oleh seseorang yg telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi;
muda tingkatan yg dicapai oleh seseorang yg telah menyelesaikan program tertentu di perguruan tinggi, biasanya menyelesaikan tingkat III; — plus gelar kesarjanaan yg diperoleh di luar bidang studinya; — utama gelar akademis yg diperoleh seseorang setelah menyelesaikan pendidikan program magister;
ke•sar•ja•na•an n hal yg bertalian dng sarjana

saya tidak akan memaknai sendiri arti ‘sarjana’ karena perlu kiranya saya mencari pemahaman lebih agar ‘keyakinan’ akan kebebasan dan keluasan pikir menjadi-jadi.

Judul tulisan ini “Risaukah saya ini? Ya. iya benar saya risau”
Kenapa berjudul begitu? Yang jelas memang begitu laiknya saya beri judul sesuai risau dalam makna saya memaknai sendiri risau disini tanpa saya menyalin maksud arti dari KBBI. Biar risau ini saya maknai sesuai kemauan saya karena risau ini bukan pada makna dalam artian di KBBI. Hehehe….

Biarlah jangan menebar benih benci berbahaya bagi kesehatan, jadi ini benih rindu saya akan berbuat buat bajik supaya kelak berbuat bijak lebih banyak lagi. Belajarnya jangan sampai disini.

PCGP | 30-5-12

6 pemikiran pada “Risaukah saya ini? Ya. iya benar saya risau

      1. sabar ya mas, memang sabar bukanlah jawaban, tapi sabar itu kekuatan. rock n roll mas..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s