Bukan itu. Bukan untung-rugi. Bukan ego. Bukan tak malu.

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

Akan dan sedang ada yang membuat pikiran bekerja lebih, untuk malam ini atau bahkan kemarin dan besok hingga perpindahanku menuju tempat dimana takdir Tuhan menggiring. Mati. Ya . benar pindah dari bumi menuju tempat lain. Itulah mengapa pikiran ini selalu bekerja. Entah dengan perasaan aku berpikir atau merasakan dengan otakku. Yang jelas semua masih bekerja.

Kadar berpikir juga beragam, ada kalanya benar-benar bebal dan tak menemukan gagasan lebih baik. Hati bukan lagi merasa bagai apa kata nurani. Semua sejalan dengan bergulirnya tiap kedipan mata. Merasa. Ya. Sekarang benar merasakan bukan memikirkan. Tapi ini juga berpikir hingga nurani membaca bahwa perasaan ini ada. Jadi berpikir sejalan perasaan.

Ibarat iman. Menurut apa yang aku tau; pelajari, coba paham, pikirkan, coba lakukan. Hati, pikiran, lisan dan tindakan sejalan itu iman dalam sempit pikirku.

Aku pernah berujar tentang ; bejo, untung, rugi [ beruntung, keuntungan, rugi] yang kesemua tentang apa yang aku pikirkan. Bahwa aku anggap keuntungan itu tak mesti beruntung dan rugi itu cara lain untuk lebih menikmati keuntungan.

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

Mengapa perlu ku utarakan ini? Dalam apa yang tadi aku pikirkan bahwa merasakan semua ini bukan hanya dengan hati melainkan dengan pikiran, dan sejalan dengan iman menurutku diatas. Kadang gagasan tak masuk akal bahkan tak penting menjadi hal yang beda. Beda bukan berarti tak sama dalam konteks maksud tapi beda dalam arti argumentasi saja melainkan tak beda dalam hal merasakan dan memikirkan. Apakah ini kegundahan? Aku jawab. Bukan. Karena ini adalah gagasan yang beda dan bukan bermaksud tak sama, melainkan ini sama tapi dengan hal yang tak sama.

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

Percayalah. Sekiranya apa yang aku maksud iman bukan dalam arti sempit keagamaan. Iman dalam arti apa yang aku maksud diatas. Bukan selesai pada gagasan ini tapi akan sampai ketika pindahku menjadi nyata dan manusia menjadi bukti bahwa ia manusia.

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

Kenapa mesti

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

Karena seperti tadi itu karena beda tak bermaksud berbeda melainkan tak sama dengan yang dimaksud sama, dan melihatnya bukan hanya dengan penglihatan melainkan dengan anggapan dan pikiran yang ikut dirasakan, sehingga keberuntungan bukan dengan tujuan menghindari kerugian, serta dalam hal yang beda tadi bukan masalah prinsip melulu hingga kesombongan lebih nampak, kenapa tadi aku bilang memikirkan dan merasakan? karena bisa saja jika pikiran tak tau kata hati kesombongan diri menjadi dan tak tau diri.

Bukan itu.
Bukan untung-rugi.
Bukan ego.
Bukan tak malu.

PCGP.24.4.12 | 00:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s