Masih dia bahkan akan ada dia dimana dia dalam rupa beda

Menagapa? kadang tanya itu menerpa jiwa, tapi apalah kata semua sudah dan berjalan hingga kini semuanya menjadi apa adanya seperti dimana harus dijalani, bukan maksud menyesal dan ingin berpaling dari kenyataan hidup, dikala diam tak lari dari keriuhan akan realitas hidup, tapi mendiami dan memejam dari kedengkian.

Bohong ikhlas bahkan tak rela jika dibilang, tapi toh manusia itu “indah” seindah muslihat manusia itu ada.

Bukan maksud tak terima dengan yang telah dilewati, malah ini cara lain menyukuri kesadaran bahwa tak selamanya “indah” benar dengan keindahannya, semua fana dan tak akan kembali seperti dimana saat lahirku.

Seakan semuanya dekat dan berujung pada penyesalan, semua bukan menyoal siapa yang salah atau kenapa bisa.

Semua berawal ketika “dia” dalam maksud sebenarnya adalah seorang wanita menawan yang entah bagaimana semenjak mata itu melihat maka terekam wajah ayu nan rupawan yang kian dipandang kian membayang. “dia” dan memang masih “dia” yang pernah dan ada “dia” ada masih dan masih ada “dia”.

Kadang tak rela melihat dan mendengar apa saja yang terjadi dan sedang “dia” alami ketika apa yang “dia” alami adalah perihal siapa sekarang dan bagaimana sosok lain selain yang diharap ada disisi “dia”.

“dia” bukan wanita yang sesungguhnya dalam pikiran ketika melihatnya aku ingin mencumbuinya atau bahkan berlarian dengan “dia”, tapi “dia” ada dalam bentuk tak nyata dan nyata bukan tak ada atau lagi “dia” ada tapi “dia” benar apa adanya dan bahkan kadang keadaan “dia” menjadi bentuk imajinasi pikiran yang memaksa “dia” menari didepan mata telanjangku.

Masih “dia” bahkan akan ada “dia” dimana “dia” dalam rupa beda, dimana beda disini dan disana itu sama dengan yang saya maksud rupa yang tapi “dia” ada dalam bentuk tak nyata dan nyata bukan tak ada atau lagi “dia” ada tapi “dia” benar apa adanya dan bahkan kadang keadaan “dia” menjadi bentuk imajinasi pikiran yang memaksa “dia” menari didepan mata telanjangku.

Saya menyanggah jika “dia” disini adalah “indah”nya masa dulu, “dia” adalah serupa mama yang sama bagai ciptaan Tuhan dari golongan satunya selain golongan kaum ku. entah kenapa “dia” bahkan mama “dia” dan moyang “dia” menjadi mama-mama manusia yang memenuhi bumi.

Sudah sudah tak cukup tentang “dia” karena bisa salah makna jika “dia” menjadi bahan obrolan dikala diamku yang mendiami dan memejam dari kedengkian.tak cukup tinggi maka aku cukup disana dan disini mencari tentang diam dan memejam bahkan sembunyi dari dengki.

pokoke ojo “adigang adigung lan adiguna”
karena kekuatan, kekuasaan,kekayaan dan kepandaian semua ini ada dan serasa dibuat sedemikian sehingga serasa nyata bahwa lebih akan sesama padahal toh semua sepadan di mata Tuhan.

PCGP.28.1.12 | 03:15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s