Rabu, 10 Agustus 2011 : Mbah Buyut Menangis

Sehari sebelumnya hari selasa saya memperoleh kabar dari saudara di kampung halaman agar saya pulang dan datang ke kantor perbankkan di kecamatan, tak pikir panjang ide untuk pulang keesokan harinya menyelinap begitu saja karena kedatangan saya di kantor perbankkan merupakan agenda penting. Rabu pagi ketika mentari pagi cukup hangat dan persiapan sudah mantap maka perjalanan pulang ke kampung segera dilaksanakan. Pukul tujuh pagi rute perjalanan dimulai, walau masih mengantuk dan diawal-awal perjalanan mengalami masalah pada ban motor yang harus ditambal karena bocor, kemudian masih dengan rasa kantuk perjalanan terasa pelan dan menggiurkan untuk tidur dan pula karena alasan puasa jadi agak berleha-leha sembari menikmati perjalanan.

Sekitar pukul sepuluh pagi tibalah saya di kediaman simbah saya, sembari menunggu mbah putri pulang dari kebun maka lantunan suara-suara dari radio menemani. Saatnya tiba saya dan mbah putri berangkat ke kantor perbankkan dan mengurusi segala macam di kantor tersebut. Setelah selesai sudah pastilah saya dan mbah putri pulang.

Istirahat siang dirasa cukup maka jam satu siang lebih beberapa menit saya bersiap kembali ke kota sleman, baru beberapa meter dari rumah saya menyempatkan mampir di kediam simbah buyut yang kebetulan sedang berada di teras rumahnya bersama simbah putri saya yang lain dan lebih muda, mencium tangan mbah buyut putri dan bersalaman dengan mbah sembari sedikit basa-basi. Dalam basa-basi saya terharu dengan apa yang terjadi dalam sekedar mampir dan basa-basi tadi. Mbah buyut putri entah apa yang beliau rasakan tiba-tiba sambil memandang saya beliau berlinang air mata dan menyampaikan beberapa patah kata mengandung doa-doa indah buat cucunya ini, rasa haru itu cukup membekas dan membuat berat sekali dalam hati hingga tergerak ingin memeluk mbah buyut putri yang dengan segenap kesepuhanya beliau mendoakan cucunya serta berpesan pada cucunya. Dengan bingung dan haru saya tetap berpamitan dan membalas doa-doa mbah buyut putri dengan mengamininya.

Kemudian saya lanjutkan perjalanan dan sampai di sleman lagi.

Mbah buyut mengapa kau menangis? Mbah buyut semoga doamu tak hanya saya amini begitu saja, semangat ya mbah. Makasih Maturnuwun Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s