Sepertinya

Salam Hangat Kawan-kawan yang dimuliakan Tuhan,

Semoga saya pingin nulis begini tidak menimbulkan “mudharat” dan semoga tulisan ini berdampak pada kebaikan, dan jika ada salah kata itu wajarnya saya sebagai seorang dengan nama ngaliman.

Mengawali memimpin organisasi ini dengan berbagai tanya bagaimana, pie iki, opo yo, dan atau dikata bingung itu.

Kemudian dengan dorongan kemauan atau kemaluan jadi terdorong untuk terus “ada” dan harapanya tidak mengada-ada.

Memang awal dengan penuh tanya gerak nyatanya akan berasa tidak ada “berubah” atau malah “tidak berubah” . berorganisasi itu berkumpul dan menghidupi organisasi itu kemudian 2 orang dengan tujuan bersama itu juga lingkup kecil organisasi, apalagi yang nyata “keluarga” itu bentuk nyata organisasi, ada kepala keluarga, ada pengelola keuangan, persedian logistik, bagian pendidikan ya yang jelas ayah,ibu,anak. Semua saling keterkaitan dan saling silang juga membutuhkan.

Organisasi mahasiswa penuh dengan macam ragam, kemudian bidang jurnalistik jadi ranah yang coba saya terjun, mulai melihat, coba masuk, coba duduk, coba bersuara, coba merangkai kata coba berargumen, coba membaca ini itu, coba ini coba itu, jadi “pentolan” hingga jadi-jadian kali ya.

Ada 2 aspek pengaruh yang saya coba amati, aspek pribadi dan aspek organisasi, satunya urusan pribadi yang satunya lagi urusan bersama untuk organisasi, memang tak sejalan dan tak setujuan tapi “kemudian pribadi-pribadi yang ada berkumpul untuk berorganisasi” jadinya urusan pribadi setidaknya jangan membuat organisasi “tak terurus”. Kata orang banyak yang “mustahil” dampaknya nihil tapi dalam berorganisai bukan masalah mustahilnya tapi “mau mencoba” , itu kemudian anggapan yang saya mengerti sendiri ya.

Beberapa kali rasa kesal menghinggap pada diri saya eh ternyata tanpa dinyana saya juga coba mendiamkan diri dan memahami kekesalan tadi, oh iya sering kesal kenapa saya menjalankan organisasi ini “kesepian” ya?. Oh tidak dalam hati saya , apakah salah saya sebagai pentolan alias yang menjadi penyulut gerak ? apa saya hanya terdiam, dan mengurusi kepribadian saya saja ya? Wah maklum saja “kesepian” wong tidak mau menggerakkan individu lain. Tapi satu sisi dari benak saya coba mengutarakan hal lain, oh bukan begitu toh saya sudah “ada” setidaknya kekonyolan saya dan dari modal awal bingung banyak tanya saya masih disini, kemudian jika dikata banyak tanya dan “tidak sadar” atau tidak “tanggap” atau lagi “ tidak mengerti” atau “tidak peduli” dan atau apalah ya ini memang adanya setidaknya “keberadaan” saya disini tidak membuat momok “segan” karena sejatinya saya tak patut disegani kata lain “silahkan dihin saja” toh awalnya saya “penuh tanya” hingga saya enggan berwacana mending “ada” dan dengan keberadaan ini supaya yang jarang “ada” bisa setidaknya “berkata” “berpantun” bercengkrama” atau dengan “isyarat-isyarat” menunjukan mereka “ada”. Tak perlu repot tidak enak hati karena saya juga pernah keenakan dengan hati-hati.

Dalam agama yang saya anut ketika kita kenal dengan orang coba raih hatinya buat dia akrab dengan kita. Nah tapi satu yang saya pegang jangan “sok akrab” kenapa ya jangan sampai kita “sok tau” atau bahkan tadi kembali hal “urusan pribadi” dan “urusan organisasi” karena saya sendiri masih mengkombinasikan keduanya, dan “kemunafikan itu datang dari hal terkecil”.

Sudah ah ini saja.
Terima Kasih semoga berkenan ini coretan saya saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s