Pahing

“…Mbang api, dor-doran,
Mbang api, dor-doran.
Rajun tikus, dom penthul, tambal pancine bu.
Pengel linu, encok, rematik, asma,
Kie obate dijamin manjur.
Murah-murah, dijual murah sepuluh ribu dapat tiga, ayo-ayo,
Kaos kakine sepuluh ewu telu.
Jeruke bu, sekilo telung ewu bae,
Apele bu murah meriah kie mrene.
Silahkan dicoba dulu bukan barang palsu,
Kalo tidak bagus uang kembali.
Sayure monggo, kubise lima ratus ribu wae,
Wortel sekilon lima ribu, lima ribu.
Mriki pados nopo bu pak, monggo klambine, nopo clanane milih mawon,
….”

Ramai dan entah apa saja yang telah terjadi dan sudah lama terjadi, untuk menerapkan praktek perdagangan bebas dengan konsumen dari semua lapisan masyarakat dari mulai anak-anak hingga kakek-neneknya juga ada dan disediakan semua kebutuhannya, dari musim durian hingga musim rambutan, dari musim hujan hingga musim panas, dari makanan atau pakaian bahkan petasan semua ada dan telah menjadi keadaan yang sangat terbiasa.

Ketika musim hujan tiba kondisi becek dan penuh dengan yang namanya kotor ternyata tak menjadi alasan untuk tetap berjualan dan berbelanja, hari pasaran sekali dalam satu minggu menjadi daya tarik untuk menarik pembeli datang, tak semua orang cukup waktu dan cukup biaya untuk selalu ikut andil dalam praktek perdagangan di pasar yang kadang kalau mendekati lebaran penuh sesak dengan lautan manusia, apalagi saat ini masyarakat mulai memilih alternatif lain dalam hal pasar-memasarkan, dengan cukup datang ke minimarket, supermarket atau mall.

Kondisi sekitar pasar itu cukup ramah terhadap lingkungan tak ada bangunan beton tinggi yang memetakkan pasar itu, cukup dengan lapak-lapak dagangan dan kios-kios sederhana sebagai sarana meletakkan dagangan dan tempat transaksi, Pasar tradisional pahingan namanya sesuai dengan hari pasaran yaitu pahing yang datang tiap satu minggu satu kali.

Penggalan kalimat-kalimat di awal merupakan penggalan suara-suara yang jika berada di pasar tersebut maka akan terdengar lantang sebagai ajakan kepada pembeli untuk mau membeli barang dagangan, suara-suara tadi tak hanya pakem dengan suara seperti itu, biasanya disesuaikan dengan kultur masyarakatnya.

Ya pokoknya jika menemukan apa yang namanya pasar tradisional maka alangkah baik jika mencoba untuk sekedar datang dan melihat, mengamati ada apa saja di sana, apa yang terjadi, bagaimana kondisinya, coba berbelanja, melakukan tawar menawar, dan mendengarkan suara-suara yang khas dengan kultur di masing-masing daerah dimana pasar tersebut ada. (20/05) KamisMalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s