BAPAKku: Sepeda Onthel dan SEIKO-nya

Alam nyata dimana aku dan bapak-ibuku pernah menghidupi diri menjauh dari tanah kelahiran tanah yang gemah ripah loh jinawi , untuk lebih jauh lagi membuktikan eksistensi diri pada dunia, bahwa keluarga ini ada. Merantau begitu tepatnya.

Di perantauan sana tak kenal adanya basa-basi “mangke riyin” (baca:ntar dulu), siapa menghargai dia akan berharga bagi diri dan keluarga.

Maraknya arus transmigrasi waktu itu membuka iming-iming bagi orang kampung macam bapak-ibuku, berpikir apakah iming-iming itu bakal dinimatinya.

Percaya tidak percaya masa kecilku penuh cerita, suatu ketika aku ingat betul ketika bapaku punya sepeda onthel yang perkasa , dia mendapatkannya dengan hasil jerih payahnya bekerja.

Poin penting beliau (Bapak-Ibuku) selalu peduli pendidikanku, aku harus mengenyam pendidikan dasar, dimana waktu itu sekolah impres hadiah dari pemerintahan orde baru yang memang megah di daerah transmigrasi keluargaku, kenapa tidak sekolah yang dulunya berdinding kayu tak ada lantai keramik tiba-tiba siswa-siswinya harus meninggalkannya dan berbaur dengan sekolah baru dengan dinding tembok dan lantai keramik, kalau tidak salah nama sekolahnya SD Impres Kabuyu, di daerah plosok Sulawesi Tengah, kira-kira tahun 1996, semoga aku masih cukup untuk mengigatnya.

Kembali dengan sepeda onthel bapakku, bapak cukup terbantu dengan adanya sepeda onthel-n ya, bisa sesekali mesra berboncengan dengan ibuku sewaktu pulang atau pergi kerja. Hehehe

Ada banyak cerita tentang sepeda tersebut, pernah sepeda tersebut menjadi incaran orang-orang karena keistimewaan bapak mempertahankan agar kondisi sepeda tetap apik, soalnya pernah beberapa orang pingin memiliki sepeda tersebut walau harus rela meladeni bapakku yang enggan menukarkannya dengan lembaran-lembaran uang sebagai bukti penjualan sepeda.

Tak rikuh untuk tetap berkendara dengan sepeda, mau bagaimana lagi dulu sepeda motor belum dilirik banyak orang, selain harganya mahal, dan orang-orang juga belum cukup perlu mengendarainya, dan malah asik lihat orang-orang mengendarai sepeda memboncengkan anak atau istrinya, wah wah keingat indahnya memori masa itu.

Kembali soal sepeda bapak yang di tawar orang, sepeda itu setahuku kalau tidak salah model sepeda jengki, tinggi, dan ada boncengannya, frame bodinya berbentuk segitiga jadi didepan bisa diduduki diriku walau harus menyamping, asik sekali ibu dibelakang, bapak ditengah sambil mengendalikan laju sepeda dan aku di depan bapak memagang stang bagian tengah, berlanjut terus perjalanan tersebut. Jadi kangen beliau (bapak-ibuku)
Sedih waktu tau kalau akhirnya sepeda itu tak lagi berada ditengah-tengah keluarga kami, isu kerusuhan poso sudah mulai berbisik, kebetulan juga kontrak kerja bapak-ibu akan habis, persiapan pulang ke kampung halaman dipersiapkan, otomatis sepeda tak akan dibawa.

Proses negosiasi dengan kerabat yang akan menjaga sepeda bapakku terjadi, sebuah jam tangan bermerek “SEIKO” melingkar dipergelangan tangan kanan bapak, beberapa bungkus jumbo berisi bungkus rokok “GP” juga ada, dan uang lembaran 50 ribu bergambar presiden orde baru dihitung bapak. Ternyata sepeda onthel-nya sudah beranjak ke tangan pemilik yang baru.

Uang dan rokok akan habis beberapa waktu dekat kala itu, tapi aku ingat betul jam tangan bapakku sampai aku sekolah di MI dan di MTS bahkan masuk SMK masih bertahan menemani bapak, mungkin juga kekangenan bapak pada sepeda-nya diobati dengan jam tangan “SEIKO” yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekarang ketika aku kuliah jam tangan itu entah bagaimana nasib-nya, aku lupa mengingat apakah masih ada apa tidak, maklum terlalu sibuk dengan pribadi hingga bapak-ibu jarang ku kunjungi.(03/05) KamisMalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s