Dari SMS dan telpon: part4

Kembali dengan cerita saya tentang “dari sms dan telpon” yang kalo ndak salah bagian ini jadi bagian terakhir sebelum saya males nulis karena makin ndak asik atau ngalantur atau gemana. ya si “N” itu semasa “Les” sering kabar-kabar dan saya juga gitu, mendekati ujian satu yang kami yakini yaitu kami LULUS, karena itu sudah jadi harga pas ndak nawar lagi, sampe pengumuman nantipun LULUS itu yang saya pribadi yakini. Pas UNAS berlanjut aneh dah semua kebiasan saya, molai dari solat malam, bicara pelan, banyak istighfar, dan perbanyak berbuat baik inyinya. ya bisa dibilang masa alim saya waktu akan ujian, memang kebanyakan dari siswa seangkatan saya baru nyadar dan merasa butuh dengan Yang Kuasa ya pas ada hal krusial seperti UNAS itu tapi yang penting ambil baiknya toh semua berharap kebaikan yang akan diterima dan terjadi.

“Wah ujiannya gampang ya”, “mudah ini”, “bisa pasti saya”, nada-nada positif seperti itu yang bangkit dari alam bawah sadar dan Tuhan pun ridho karena memang UNAS masaku dulu kemudahan itu ada, “N” juga yakin bahwa semua akan mudah dan gampang ngerjainnya, 3 hari adalah waktu yang cukup buat jalani UNAS bagi saya karena SMK cuma ada 3 mata pelajarang yang diujikan sedangkan “N” memang kudu berkutat selama satu minggu dengan 7 apa 6 mata pelajaran SMA yang cukup membuat sibuk siswa-siswi yang ikut UNAS.

Pasca UNAS jarang ada komunikasi antara saya dan “N”,ndak tau kenapa beberapa kali saya SMS dan coba miscall ternyata tidak ada fit back dari “N”, ya sudahlah dalam hati. setelah ujian berlalu intensitas kesekolah pun berkurang, ini masa-masa dimana sebagian siswa-siswi putih-abuabu yang belum jelas kepastiannya akan kemana setelah ini merasa mesti mikir ulang buat menata jalan hidup, sayapun begitu karena antara kerja, kuliah atau nganggur akan lega jika sudah pasti LULUS dan megang apa yang namanya IJASAH. “N” kagak pernah lagi komunikasi dengan saya, karena mungkin dia juga lagi mempersiapkan segalanya setelah ujian, merencanakan kemana langkah kaki menapaki jalan hidup kedepannya.

Akhirnya ada juga LULUS itu dan menanggalkan seragam putih-abuabu dengan segala ritual yang ada molai dari perpisahan,pelepasan,pawai kelulusan, sorak sorai, sujud syukur, corat-coret dan sebagainya saya juga alami hal tersebut. Hingga akhirnya entah pilihan terakhir karena ndak kerja jadi kuliah saja atau memang ini jalan hidup yang mesti dilalui buat masa depan saya dimana saya bisa kuliah juga, mengalami bagaimana dunia mahasiswa itu hingga kini, ya semoga Tuhan memberi berkah buat ini semua.

Tentang “N” serasa hilang dari peredaran rupanya entah apa tapi memang komunikasi sudah disconect lama, hingga suatu ketika dimana waktu itu lebaran tahun pertamaku saat sudah jadi mahasiswa, saya berkunjung ketempat temen semasa dulu buat silaturahmi. tanpa ada basa-basi dulu HP yang ada disaku saya berbunyi ternyata ada panggilan masuk dengan nomor yang bagi saya koq ini bukan nomor berkode negara indonesia, ya saya angkatlah itu panggilan dan ternyata seseorang dengan suara lembut khas cewek cantik kedengarannya, saya pun langsung menjawab “wassalam, ini siapa?” nah dijawabnya “ini “N” iman, ingat ndak?” saya pun coba menebak dan mengingat nama yang disebut, untuk memastikannya saya coba tanya “apa ini “N” yang anak solo?” dijawabnya “iya iman ni “N” yang dulu kita sering smsan, saya sekarang dimalaysia” nah langsung cemplong aja “kerja po?” dianya jawab “ saya kuliah lagi disini, kamu gemana man? Kuliah dimana?” dengan begitu dalam pikir saya kenapa jauh amat ya, “ iya saya kuliah di jogja” dan dia juga sempat cerita ternyata waktu dulu pasca ujian dia itu sakit dan dirawat di rumah sakit, dan HP dia di bawa adiknnya nah katane “sekarang nomor saya dipake adik saya iman” gitu dia ngomongnya. Obrolan itu mesti terhenti setelah dia berkata “ maaf ya iman sudah dulu kapan-kapan saya sambung lagi, ini pake nomor paman saya, soale disini saya tinggal ditempat paman” begitulah yang saya dengar dari “N”. rupanya itu terakhir kali kami komunikasi, sekarang entah apa yang terjadi dengannya, moga Tuhan selalu ada dihatinya.

Nomor HP yang dia katakan dipake adiknya ternyata hilang dari simpanan saya setelah HP kesayangan milik saya hilang sewaktu saya sholat jumat karena kamar kost yang dibiarkan kuncinya tergeletak tanpa kawalan berarti, saya coba cari-cari sapa tau masih tersimpan dimana nomornya tapi tidak diketemukan juga, walu nomor HP saya hingga kini ndak ganti tapi kagak ada komunikasi dengan “N”. doa saya semoga dia baik-baik saja, dalam langkah yang dia lalui ada tuhan bersamanya. Cerita ini menjadikan apa yang saya alami itu mungkin pernah terjadi pada orang lain, kisah ini benar adannya dan mungkin ada penambahan atau dramatisasi atau apapun tapi ada positif dari kisah ini yang dapat saya pribadi alami. Buat “N” memang namanya disamarkan karena biar jadi ingatan saya aja, moga saja jika tuhan mengijinkan kelak suatu saat saya bisa ketemu dia ya, amien. (Rampung…

4 pemikiran pada “Dari SMS dan telpon: part4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s