tak semudah kata tapi juga tak boleh berhenti proses

Terima kasih segala aral bukan jadi masalah jikalau mau berupaya. Ya akhirnya dengan biasa saja maka terbiasa diperlakukan istimewa olehmu. karena memang istimewa ada kamu dalam hidupku. biar terbiasa, maka aku berupaya agar terbiasa berbuat lebih baik buat taman impian cita yang sedang kita bangun sedari pagi. terbangun dan sadar dengan kenyataan, maka jangan mimpi lalu lelap. tapi bangun dengan cara-cara kita lebih sehat dan tekun. dalam kebaikan dipertemukan, dan dalam kebaikan pula kebersamaan ada, dan akan kembali dalam kebaikan. tak semudah kata tapi juga tak boleh berhenti proses. tentang doa-doa dan upaya. tentang bahagia dan menerima. tentang bersyukur dan … Lanjutkan membaca tak semudah kata tapi juga tak boleh berhenti proses

Tenang no ati, tenang no pikir, tenang no laku

Pernah ingin menuliskan tentang ini, tentang di mana bertanya siapa saya? dari mana saya? punya apa saya? Tentang falsafah bagi seorang manusia.

Maka saya adalah manusia biasa yang akan menjadi luar biasa jika saya bukan manusia biasa. Tentang keluarga dan tentang asal darah daging ini ada merupkan titik balik semua menjadi jelas. Sejatinya ini perihal jati diri dalam hal apa yang ada di raga ini. Tentang perangkat pelangkap sandang,pangan, papan bahkan material duniawi lainya yang bisa diusahakan dengan tangan-tangan manusia menjadi semacam milik sendiri. Tentang tanya materi, tentang tanya darah keturuanan macam apa, hingga takaran drajat yang nampak mata juga dibicarakan, tentang apa yang dikenakan berupa benda-benda yang dipunya secara materi.

Materi tersebut adalah wahana bahan pelengkap hidup dunia, pastilah bisa semestinya diperolah dan takaran kebutuhan masing-masing sudah ada takaran dari Tuhan, porsi kecukupan bagi masing-masing manusia juga sudah dipertimbangkan Tuhan, namun porsi itu bisa berlebih jika merasa lebih baik berbuat lebih untuk hal ikhwal kesenjangan sosial. Kedudukan dalam drajat mata maksudnya apa yang dilihat adalah titipan di dunia bukan berarti tak perlu, tapi tak juga perlu terus diratapi jika merasa tak nampak dalam strata kasta si kaya. Karena ketidak kayaan itu muncul ketika kecukupan yang ada dirasa tak cukup mencukupi hal ikhwal kebutuhan berkecukupan. Toh cukup tidaknya manusia juga bisa menakar dalam hitungan bahkan pertimbangan pribadi perihal materi yang nampak.

Kembali dalam hal apa yang awal tertanam dalam diri adalah bukan dari keturunan manusia semacam apa hingga kemudian jadi cela seseorang untuk mencela dan menjerumuskan diri dalam keriyaan, bahkan apa yang disandang dalam raga bisa saja sirna ketika Tuhan menghendaki segera, dan apa yang dibawa raga berupa kebendaan juga akan sirna jika tiada tau menempatkan kebendaan itu semestinya benda yang juga fana. Tuhan yang Maha berkehendak atas segala. Tak usah jadi pelik ketika bertanya apa-apa yang menjadi perabot duniawi dalam raga. Lanjutkan membaca “Tenang no ati, tenang no pikir, tenang no laku”

kala lamunan biasa

semenjak sang kala itu tiba kala dimana ada rasa yang tiada terduga nyata kala itu hingga entah senja kala usia menua pikun tak jadi apa asal rasa itu ada ya. keyakinan akan tiada akhir jika tak ada yang mengawali tiada menjadi ada hingga terjaga saat sang kala menjemput nyawa syair merdu tentang pertemuan syair sendu tentang perpisahan terbenam dalam cerita kala memadu kala rindu kala tiada satu tiada dua tiada kadang kala tapi ada kalanya saling mengingat semenjak kala tiada percaya percaya tiada kala senja akan menua usia kala menua usia kala tiada lagi ingin lebih sekedar melihat mendengar dan … Lanjutkan membaca kala lamunan biasa

memimpikan pertanyaan-pertanyaan

Hari-hari dipekan awal bulan Maret 2014, saya masih berkutat dengan penulisan tugas akhir hasil penelitian untuk masa studi saya, buku bacaan yang dibaca tak jauh dari sumber literasi tentang dunia teknologi terutama komputer, ketika mencari di dunia maya pun literasi dan bahan ajar penunjang penulisan tersebut adalah sama tentang teknologi atau apapun yang berhubungan dengan apa yang saya kerjakan ini.

Tapi sebuah proses ini adalah perihal keyakinan akan segera kelar masa studi akademik strata satu saya. Muncul beragam tanya ketika disela-sela mengerjakan skripsi ada satu buku yang saya baca pokoknya tentang “Sukses” definisinya jelas bukan iming-iming akan kemudahan meraih kesuksesan tersebut. Dan memang ini perihal materi, posisi, bahkan sosial juga perihal keyakinan agama. Yang jelas lagi buku ini memberi pengetahuan tentang perlunya mencerna bacaan tak sekedar dibaca dan hanya dibaca atau sekedar tau kemudian lupa. Ya saya tak perlu bicarakan buku berjudul apa juga sih, soalnya cukup coba saya terka aja yang masih coba saya cerna dan meng-iyakan kebenaran-kebenaran yang membuat banyak pertanyaan buat saya pribadi.

Kira-kira ini pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan buat diri saya; Lanjutkan membaca “memimpikan pertanyaan-pertanyaan”

Aja dumeh; sewajarnya saja, menyadari ada Yang Maha segalanya.

Dalam  Buku 500 Pepatah Untuk Peladjar yang disusun oleh Aman Terbitan Perpusatakaan Perguruan Kementrian P.P dan K. Djakarta Tahun 1954 , buku ini cetakan keenam.  Saya mendapati sebuah pepatah bernomor urut 391 berbunyi sebagai berikut;

Tidak bernasi dibalik kerak

Kiasannja, tak ada orang jang lebih dari pada dia sendiri. Tabiat orang jang sombong, jang menjebut dirinja segala lebih.

Jang sedjalan dengan itu; Tak berudang dibalik batu, tak berbalik itu. Artinja, tak ada orang lagi sebagai dia.

Kemudian pepatah tersebut dilanjutkan dalam pepatah yang bernomor urut 432 berbunyi sebagai berikut;

Tidak berputjuk diatas enau

Dikiaskan pada orang jang sembong atau angkuh, memandang dirinja dalam segala hal lebih dari orang lain, tak ada jang dapat mengatasinja.

Kemudian saya coba telaah ulang dengan buku Pitutur Adi Luhur tentang Ajaran Moral dan Filosofi Hidup Orang Jawa , yang dihimpun dan dipersembahkan oleh ST. S. Tartono , dkk terbitan Yayasan Pustaka Nusantara, cetakan pertama padu bulan Juli 2009. Dalam buku ini disusun dengan alphabet runtun jawa (ha na ca ra ka) misal A maka itu (ha), B itu (ba), N itu (na,nga,nya).  Dalam urutan alphabet A (ha) bernomor urut 20 saya dapati ungkapan yang sering di utarakan orang jawa. Ungkapan itu kemudian saya sambungkan dengan dua pepatah di atas. Ungkapan itu berbunyi ;  Aja dumeh.

Aja dumeh

Di jelaskan dalam buku tersebut seperti ini; Aja dumeh. Itu Jangan sok. Sebuah nasehat agar di manapun, kapanpun, hendaknya orang bersikap wajar. Nasehat ini dimaskudkan untuk mengingatkan setiap orang, anak-anak, kaum muda, siapapun, hendaknya senantiasa bersikap ugahari, sederhana, wajar-wajar saja, low profile. Jangan berlebihan dalam segala hal. Sebab, ada kecenderungan, dalam situasi dan kondisi tertentu, misalnya mendadak menjadi kaya, atau naik pengkat atau jabatan, atau memperoleh strata pendidikan yang lebih tinggi, atau yang memperoleh kelebihan-kelebihan tertentu, orang cenderung berubah perangai. Kelebihan-kelebihan yang tiba-tiba dimilikinya itu cenderung mengubah pola hidup atau sikapnya. Cara pakaian, cara berbicara, cara bersikap, terhadap orang lain, cenderung berubah. Lanjutkan membaca “Aja dumeh; sewajarnya saja, menyadari ada Yang Maha segalanya.”

Uraian membahana kembali tanpa mengada-ada

Tidak. Ini bukan perihal ketidak mampuan.
Ini. Kuasa Tuhan.
Membuka wawasan bahwa Yang Maha Kuasa Lebih berkuasa.
Bukan pula menyerah dan pasrah.
Bukan pula mengalah pada kesempatan.
Bukan pula menghindar dari tantangan.
Tapi alangkah bijak jika tetap berbuat dengan seksama.
Jangan hanya tunduk, sesekali menengadah dan menatap tajam.
Sembari tetap teguh pada kebenaran.
Ya. Yang benar adalah belum tentu pada kenyamanan.
Dan. Nyaman bukanlah langkah aman ketika diam.

Pagi. Ya kembali waktu pagi menyadarkan akan suara-suara kebesaranNYA. Tuhan Maha Adil.

Senin di hari ke-10 bulan Februari 2014. Bukti bahwa saya seorang manusia biasa yang mesti lebih tersadar bahwa tak cukup hanya sebentar berbuat, masih cukup waktu untuk menjadi laik, bahkan masih dibukakan peluang lebih agar menjaga teguh.
Lanjutkan membaca “Uraian membahana kembali tanpa mengada-ada”

Merekam Satu yang Terakhir dari Tujuh

Originally posted on merakitsampah:
“Satu yang terakhir dari tujuh, saatnya tanggalkan baju perangku.” -Fstvlst Bagaimana caramu berfestival hari ini? Ketika panggung musik tengah rehat, benarkah tidak ada hal lain yang bisa dan layak di-festival-kan? Yang sama menggembirakan, baik diri sendiri maupun orang di kanan-kiri. Semoga begitu. Tapi nyatanya, yang sempat terekam tidak selalu semenyenangkan yang ingin diceritakan. Dia (cerita-cerita hari ini) lebih besar, sekaligus lebih sederhana dari yang terpikirkan. Oleh karenanya, putar musik kegemaranmu dan teruslah menerka. Jika bosan, mulailah bertanya pada mereka, yang menangisi akhir pekannya. Atau aku, kalian juga? Lanjutkan membaca Merekam Satu yang Terakhir dari Tujuh